Me
Sabtu, 12 April 2014
bahasa dan komunikasi
A. Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.[1]
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.
B. Karakteristik Bahasa
Telah disebutkan di atas bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.
1.Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.
Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
1.Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
1.Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
1.Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
1.Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
C. Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end”. Oleh karena itu fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode dan amanat pembicaraan.[2]
1.Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang sedih, marah atau gembira.
1.Fungsi Direktif
Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.
1.Fungsi Fatik
Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik. Artinya bahasa berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan secara harfiah.
Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur paralinguistik, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak gerik tangan, air muka atau kedipan mata. Ungkapan-ungkapan tersebut jika tidak disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai makna.
1.Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu berfungsi untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
1.Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa dijelaskan dengan bahasa.
1.Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi (khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa karya seni (puisi, cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur maupun para pendengarnya.
komunikasi
Pengertian komunikasi menurut para ahli mengacu pada aktivitas interaksi manusia yang bisa terjadi secara langsung atau tidak langsung. Beberapa definisi komunikasi menurut para ahli berikut ini :
Everett M. Rogers, mengemukakan pendapatnya yaitu “Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”
Kemudian pendapat lain dari Rogers & O. Lawrence Kincaid “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.
Theodore M. Newcomb, “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima”
Dari pendapat di atas, bisa di tarik kesimpulan bahwa komunikasi bisa terjadi karena adanya beberapa unsur yang ada untuk membangun sebuah komunikasi. Berikut ini unsur pembangun komunikasi :
•Sumber – Yaitu pembuat informasi atau pengirim informasi. Pada komunikasi antar manusia, sumber komunikasi bisa dari satu orang atau dari beberapa orang (kelompok) misalnya sebuah organisasi atau lembaga. Sumber komunikasi disebut juga komunikator.
•Penerima – pihak yang menjadi tujuan untuk dikirimi pesan oleh sumber (komunikator). Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima disebut juga komunikan.
•Pesan – adalah informasi yang disampaikan oleh pengirim pesan kepada penerima (komunikan). Pesan tersebut bisa disampaikan dengan bertatap muka (langsung) atau melalui media komunikasi (tidak langsung).
•Media – alat yang digunakan dalam berkomunikasi untuk memindahkan pesan (informasi) dari sumber kepada penerima
•Efek – Pengaruh yang dipikirkan dan dirasakan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Yang kemudian akan mempengaruhi sikap seseorang dalam menelaah pesan.
•Umpan Balik – sebuah bentuk tanggapan balik dari penerima setelah memperoleh pesan yang diterima.
Fungsi Komunikasi
Pada unsur komunikasi yang telah dijelaskan bahwa pihak yang mengirim pesan kepada khalayak disebut komunikator. Sebagai pelaku dalam proses komunikasi, komunikator memegang peranan yang sangat penting terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi. Sehingga pesan tersebut diterima oleh penerima (komunikan) secara baik.
Berikut ini beberapa fungsi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari tersebut menurut para ahli :
Menurut Thomas M. Scheidel, “Kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun kontak social dengan orang di sekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan”
Rudolf F. Verderber, “Komunikasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi social, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Kedua, fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu.”
daftar pustaka
bahasa.wordpress.com
http://blogging.co.id/pengertian-komunikasi-menurut-para-ahli
Filsafat Yunani kuno didominasi oleh tiga orang terkenal, yaitu Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Ketiganya pernah tinggal di Athena dalam waktu lama, dan mereka juga saling mengenal. Sokrates yang paling tua, dan Plato merupakan muridnya, sekitar 400 SM. Sokrates meninggal pada 399 SM, dan Plato memulai karyanya dengan menuliskan ajaran Sokrates, dan kemudian berlanjut dengan menuliskan gagasannay sendiri serta membuka sebuah sekolah. Aristoteles, yang lebih muda, belajar di sekolah Plato, dan akhirnya ia pun membuka sekolah sendiri.
Pada masa setelah Plato dan Aristoteles meninggal, pada 200-an SM, tiga mazhab Filsafat terkenal muncul di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Plato dan Aristoteles. Ketiga mazhab ini adalah Stoikisme, Skeptisime, dan Epikureanisme. Ketiganya terus bertahan bahkan hingga masa Kekaisaran Romawi, hingga akhirnya agama Kristen mulai mendominasi sekitar 300-an M, dan bahkan hingga setelah masa itu.
1. Filsafat Sebagai Ciptaan Yunani
Tanah Yunani adalah tempat persemaian dimana pemikir ilmiah mulai tumbuh. Brouwer dan Heryadi (1986: 2) mendefinisikan sejarah kebudayaan Yunani bahwa,
Orang-orang Yunani pada abad VI SM masih mempercayai dongeng-dongeng atau mitos. Segala sesuatu harus diterima sebagai suatu kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Saat itu (logos) tidak dapat berbicara, segala sesuatunya harus diyakini dengan iman. Hal ini merupakan awal kebangkitan pemikir filsafat Yunani, diaman orang-orang mulai mencari kebenaran dengan menggunakan logis dan meninggalkan mitos.
2. Sejarah Filsafat Yunani
Bertens (1975:23 ) mengemukakan pendapat mengenai sejarah filsafat Yunani, Bertens mengatakan,
Pemikiran Yunani sebenarnya tidak asing bagi kita. Sekitar abad VI SM mulai muncul para pemikir yang tidak puas dengan segala dongeng-dongeng yang berkembang. Mereka menghendaki jawaban yang dapat diterima oleh akal dan meninggalkan mitos”
Para pemikir filsafat Yunani yang pertama berasal adari Miletos.
Menurut Hadiwijoyo (1980: 15) mengemukakan mengemukakan bahwa,
Para filsuf yang pertma hidup di Miletos kira-kira abad ke-6 SM. Bagaimana persis ajarannya sulit ditetapkan sebab sebelum Plato tidak ada hasil karya para filsuf itu yang telah seutuhmy dibukukan. Pemikiran mereka mencakup segala sesuatu yang dapat dipikrkan akal. Kajian berfikirnya adalah alam, buakan manusia. Alam ( fusis) adalah seluruh kenyataan hidup dan kenyataan badaniah. Orang yang pertama melakukan penyelidikan ini adalah Thales yang beranggapan asal mula segala sesuatu adalah air.
3. Filsafat Pro-Sokratik
Menurut Tjahjadi (2004: 18) filsafat Pro-Sokratik adalah,
Mencakup filsafat alam dari pemikir asal Miletos, Parmenides, Herakleotos beberapa filsafat alam muda lainnya, dan para atomis.kaum sofis abad ke-5 SM sebenarnya juga termasuk dalam golongan para filsuf zaman pro-sokratik tetapi berbeda dengan mereka, minat kaum sofis bukan terletak pada refleksi atas alam, melainkan atas manusia dan masyarakat.
Filsuf-filsuf pertama dari Miletos, antara lain:
a. Thales
Thales tidak menuliskan pikiran-piirannya atau sekurang-kurangnya tentang itu tidak ada kesaksian apapun.
b. Anaximandros
Anaximandros mencari prinsip terakhir yang dapat memberikan pengertian mengenai kejadian-kejadian dalam alam semesta.
c. Anaximenes
Menurut Anaximenes prinsip yang merupakan asal usul segala sesuatu adalah udara.
Ajaran-ajaran filsuf lonia yang pertama boleh disebut “filsafat alam” karena perhatian para filsuf ini kepada alam.
Bertens (1999: 66) berpendapat bahwa
Sejak Thales filsuf-filsuf pertama semua menganut pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu, karena terjadi dari satu unsurnya saja. Parmenides adalah filsuf yang telah menguraikan ajaran ini dengan cara yang paling eksterm, sampai-sampai pluralitas dan perubahan yang disaksikan dengan panca indra ditolak atas dasar rasio.
4. Kaum Sofis dan Sokrates
Menurut Bertens (1975: 66) “Aliran yang disebut Sofistik tidak merupakan suatu, yang dapat dibandingkan dengan mazhab Elea umpamanya. Bertentangan dengan suatu mazhab, para sofi tidak mempunyai ajaran bersama”.
Sokrates dengan sekuat tenaga menentang ajaran filsafat. Ia membela yang benar dan yang baik sebagai nilai objektif yang harus diterima serta dijunjung tinggi oleh semua orang. Sokrates merupakan contoh filsuf yang jujur serta berani. Sokrates memiliki jasa-jasa besar bagi filosof barat, sebab ia menyelamatkan pemikiran yunani yang masih muda dari krisis yang diakibatkan oleh sofistik (Bertens 1998: 11-12)
5. Plato
Menurut Hatta (1980: 87) “Plato dilahirkan di Atena 427 SM meninggal tahun 347 SM usia 80 tahun terlahir dari keluarga aristokrasi”.
Bakker (2000: 95) menyatakan bahwa,
Dunia materiil terdiri dari bayangan-bayangan yang menggambarkan bagian dalam dunia, ide-ide itu subsistik tidak berubah dan sempurna. Diantara ide-ide juga terdapat jiwa manusia disatukan denga badan. Jiwa itu adalah akal spiritual. Jiwa diturunkan kedalam badan entah karena kesalahan apa jiwa menguasai badan seperti perahu.
Menurut Magnis dan Suseno (1997: 15) “Plato tidak menulis tentang etika. Buku etika pertama kali ditulis oleh Aristoteles. Namun banyak dialog Plato terdapat uraian-uraian bernada etika. Itulah sebabnya kita dapat merekontruksikan pikiran-pikiran Plato tentang hidup yang baik”.
6. Aristoteles
Aristoteles lahir di Stageira suatu kota di Yunani Utara. Bapaknya adalah seorang dokter pribadi Amyntas II, raja Makedonia. Pada usia 18 tahun Aristoteles pergi ke Athena untuk belajar pada Plato. Selama 20 tahun Aristoteles menjadi murid Plato.
Perkembangan pemikiran Aristoteles dibagi menjadi tiga tahap, antara lain:
a. Tahap di Akademia, ketika masih setia kepada gurunya, Plato dan ajarannya tentang idea.
b. Tahap di Assos, Aristoteles mulai mengkritik ajaran Plato mengenai idea dan mengukuhkan pandangan filsafatnya sendiri.
c. Tahap di Athena, Aristotheles mulai meninggalkan filsafat spekulatif dan menuju pada penyelidikan empiris.
Pemikiran Aristoteles tentang “yang ada” berdasarkan ajaran para filsuf yang mendahului tidak setuju dengan ajaran Plato, yang mengatakan bahwa ada dua bentuk yang ada. Menurut Aristoteles “ada” hanya dimiliki oleh benda-benda kongkrit, diluar benda konkrit tidak ada sesuatu yang berada (Brouwer dan Heryadi. 1986: 35-40).
Hardiwijoyo (1980: 39) mengemukakan bahwa “Di dalam filsafat Aristoteles , etika mendapat tempat yang khusus. Hukum-hukum kesusilaan diturunkan dari pengamatan perbuatan kesusilaan dan dari pengalaman angkatan yang susul menyusul”.
B. Analisis
Plato dan Aristoteles mengatakan bahwa filsafat timbul atas dasar rasa heran, tetapi filsuf-filsuf dari miletos member jawaban rasional atas tanda-tanda Tanya yang disodorkan oleh alam semesta. Filsuf-filsuf pluralis seperti Empedokler dan Anaxagoras memiliki perdedaan dalam ajarannya. Empedokler menjelaskan kaliau kita membagi-bagi materi kita akan terbentur pada empat anasir. Air misalnya tidak dapat dibagi lagi menjadi bentuk anasir yang lain. Anaxagos menganggap realitas seluruhnya sebagai suatu campuran yang mengandung semua benih. Dalam tiap-tiap benda terdapat benih-benih, tetapi tidak menurut proporsi yang sama. Sokrates dalam ajarannya memilih manusia sebagai objek penyelidikannya, dan ia memandang manusia lebih kurang dari segi yag sama sepertimereka. Ajaran Plato tentang idea menjelaskan esensi mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan kongkret. Ajaran Plato mengenai ide-ide ialah ilmu pasti. Aristoteles sendiri menggunakan istilah “analitika” untuk penyelidikan mengenai argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar dan dia menggunakan istilah “dialektika” untuk penyelidikan mengenai argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan hipotesa atau putusan yang tidak pasti kebenarannya.
Filsuf-filsuf Yunani Kuno dapat dilihat dari beberapa kriteria,antara lain:
1. Filsuf-filsuf pertama dari Miletos
2. Pythagoras
3. Xenopanes
4. Herakletos
5. Filsuf-filsuf Pluralis
6. Kaum sofis
7. Sokrates
8. Plato
9. Aristoteles
Filsafat Plato bersifat sokratik, Plato menggunakan filsafat sebagai dialog yang mengandung mite-mite. Ajaran filsafat Plato mencakup:
a. Ajaran tentang idea-idea
b. Ajaran tentang jiwa
c. Ajaran tentang Negara
daftar pustaka:
http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Filsafat
Bakker, Anton. 2000. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius.
Bertens.1957. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius
Bertens. 1998. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: kanisius.
Bertens. 1999. Sejarah Fillsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.
Brouwer dan Heryadi. 1986. Sejarah Filsafat Barat Modern dan
Seezaman. Bandung: P.T. Alumni.
Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filosof Barat. Yogyakarta:
Kasinius.
Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press.
Jono dan Cecep Sumarna. 2006. Melacak Jejak Filsafat. Bandung: Sangga
Buana.
Kencana, Inu. 1995. Filsafat Kehidupan. Jakarta: Bumi Aksara
keluarga
Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota") adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
itulah arti keluarga menurut Sumber dari Wikipedia,,
tapi dalam kehidupan sekarang, ketika saya mendapatkan tugas untuk wawancara secara observasi, saya turun kelapangan untuk mencari tahu, apakan arti keluarga menurut orang orang yang tidak saya kenal,
Langganan:
Postingan (Atom)

